< Cuplikan : Bab 1 + Bab 2 + Bab 3 + Bab 4 + Bab 5 + Bab 6 + Bab 7 + Bab 8 >

 

Bab VIII

 

Sosok Retno dan Keluarga

Kehidupan seorang tokoh seperti Retno pastilah tak hanya terangkai dari aneka peristiwa biasa. Di balik semangat dan kemajuannya dalam merintis serta mengembangkan Ristra, tercermin suatu kepribadian yang utuh dan kukuh. Lincah dan trengginas dengan senyuman tetap terjaga di setiap suasana, jelas menunjukan bahwa Retno memang bukan sekadar ”wanita” pesolek yang hanya ingin selalu ingin terlihat cantik dan anggun saja. Dengan mata yang bersinar cerdas, suara yang tak putus mengalir penuh semangat, betapapun cantik parasnya dan elok tatanan rambutnya, perintis kosmetik ini sesungguhnya jauh dari kesan ingin hadir glamour, terlebih glamour akan hal-hal yang bersifat permukaan. Tak ada yang lebih tahu kelebihan kepribadian Retno daripada pegawai tim manajemennya. Semua melihatnya sebagai wanita ”hiperaktif”, pekerja ulet yang tak bisa tinggal diam, dengan gagasan-gagasan cemerlang yang deras bersusulan. Keberanian maupun hasil sukses yang dicapainya adalah prestasi yang sangat luar biasa.
Retno sebagai istri, yang menganut prinsip ”keseimbangan” itu tidaklah melulu dilihat sebagai warisan Jawa, tetapi sebagai produk kesepakatan bersama dengan Tranggono, sang suami. ”kami berdua masih menganut perkawinan sebagai ikatan yang sakral”, katanya. Untuk mencapai semua itu haruslah ada keseimbangan. Hal ini sangat penting, meski saya perempuan karier, tetapi juga perempuan yang bersuami; saya juga punya anak. Kegiatan saya diluar, dan dirumah harus sama-sama bisa saya jaga, ’seimbang’ kalau dirumah saya ’istri’ dan barulah diluar saya ’perempuan karier’, ujar Retno. Pernyataan itu sesungguhnya menyiratkan sikap Retno terhadap gender yang tak berbeda dengan sikapnya terhadap feodalisme. Dia tak pernah merasa harus rendah diri, dan menunduk tersipu-sipu. Sebaliknya, dengan keahliannya dia siap bersaing dengan lelaki siapa pun juga. Apalagi, sampai sejauh ini Tranggono terbukti tidak pernah sekalipun menghalang-halanginya untuk maju. Mungkin karena tidak pernah dituntut menunduk, Retno justru menjaga dengan amat teliti posisinya sebagai ”istri”.
Bagaimana hubungan Retno dengan putra-putrinya? Pertama-tama harus ditekankan, putra-putri Retno dan Tranggono betul-betul anak yang ”direncanakan”. Sejak sebelum nikah, sudah diputuskan bersama akan mempunyai anak setiap empat tahun. Dan itu betul-betul dilaksanakannya. Sasya lahir pada Desember 1963, Krishna pada Juli 1967, dan Indira pada Januari 1973. Anaknya yang kedua, Krishna, mempunyai pandangan bahwa ibunya bukan seperti kebanyakan ibu di Indonesia lainnya. Selain sebagai ibu, dia juga bekerja penuh waktu. ”Jadi kami tidak setiap saat didampingi di dalam perkembangan kami. Sejak dini kami sudah dibiasakan berdikari, melakukan apa-apa itu sendiri”, lanjut Krishna.

Namun, meskipun demikian anak-anak diawasi secara ketat. Pertama, lanjut Krishna, kami ditekankan ”tidak boleh gagal”, dan memang saya sendiri tidak pernah gagal. Dan satu hal lain lagi yang diutamakan, ialah wawasan dunia. Retno dan Tranggono sering membawa anak mereka sedini mungkin keluar negeri, untuk membiasakan mereka dengan aneka kultur dunia.
Ada ciri-ciri kepribadian Retno yang tidak kentara di dalam keseharian kehidupan publiknya, tetapi justru mengungkap segi-segi yang lebih privat dari kehidupannya, yaitu aneka hobinya. Yang paling menarik adalah hubungan Retno dengan anggrek ”pohon anggrek membutuhkan perhatian cinta kasih sayang yang tulus”, katanya sungguh-sungguh. ”bunganya saya potong sendiri, siram sendiri”. Bahkan memelihara anggrek menjadi bagian dari jadwal harian Retno yang tak pernah dilewatkannya. Retno pernah memiliki koleksi 500 pot anggrek cattleya dari Thailand. Selain koleksi bunga, yang dapat dianggap terkait dengan kecintaannya pada alam, Retno juga mengoleksi berbagai aneka jenis keramik, bukan hanya keramik China, tetapi juga keramik dari belahan dunia lainnya seperti Turki, Belanda, Perancis, dll. Bila mengunjungi suatu negara, Retno tidak pernah lupa untuk mengunjungi toko-toko souvenir. Di samping itu, Retno juga mengoleksi lonceng yang berasal dari seluruh belahan dunia. Lonceng-lonceng ini tidak hanya terbuat dari besi, namun ada pula yang terbuat dari keramik, kristal, gelas, dll.
Hobi lainnya: bepergian. Kata orang yang dekat dengan dia, kegemaran itu tercermin dalam perilaku sehari-harinya: dia tidak bisa tinggal diam. Pokoknya sibuk kesana kemari. Selain itu Retno juga suka olahraga jalan kaki, baik di sekitar rumah dengan mengitari kebun atau keluar Jln. Bukit Golf, Pondok Indah yang sepi kendaraan, sambil melihat rumah-rumah yang indah dan besar, dengan udara yang dirasakan segar. Terkadang Retno pergi ke mana saja, sekadar untuk jalan-jalan. Bertamasya. ”hidup saya banyak di jalan”, ujar Retno. ”Sabtu-Minggu, saya suka pergi berdua denganbapak ke daerah ’disekitar ’ Jakarta untuk melihat kehijauan alamnya, saya juga suka ke luar negeri, ke ’desa-desa’ di kota Inggris atau Jepang. Boleh dikata tidak ada tahun saya tidak berpergian ke luar negeri. Hobi yang tak kalah menariknya ialah kesukaannya pada binatang. Sewaktu kecil, Retno menyenangi kucing. Bulunya yang hangat amat disukainya.
Apakah belajar merupakan hobi? Bagi orang kebanyakan, tampaknya tidak. Tetapi, untuk Retno, ya. Belajar ternyata tidak bisa dipisahkan dari kesehariannya. Belajar itu berarti memperluas wawasan, pengetahuan, serta menjawab keingintahuan akan segala sesuatu yang menarik minatnya. Pendeknya memperkaya warna – warni kehidupannya, misalnya pertanyaan mengapa kosmetik bisa menimbulkan kerusakan pada kulit. Belajar bukan merupakan beban. ”Kalau pergi ke negara manapun, ” kenang sekertarisnya, ”Ibu Retno selalu kembali membawa buku, baik buku mengenai manajemen, kesehatan keluarga, agama, kebudayaan, pokoknya ada saja buku yang dibawa”.
Saking banyaknya buku yang dimiliki Retno, dia membuka fasilitas perpustakaan untuk karyawan Ristra. Sayangnya, karena memang minat membaca orang Indonesia kurang, jarang ada yang mau meminjam buku-buku tersebut. Semangat belajar Retno tidak terbatas hanya pada bidang formalnya saja, tetapi juga bidang-bidang lainnya. Minatnya itu tidak terhenti pada spesialisasi dan masalah riset yang terkait dengan kariernya sebagai dermatolog. Dia pernah kursus di beberapa lembaga manajemen, serta aneka kursus lainnya. Hingga tahun 2004 pun ikut studi pengembangan Bahan Alam.
Pengetahuan, bagi Retno, bukanlah sesuatu yang ”selesai” dan sudah ”jadi” dalam hasil akhir berupa gelar, melainkan suatu proses terus-menerus yang tak mengenal batasan umur maupun waktu. Ketika ditanya, meski lama mengabdi di FKUI, mengapa belum bergelar profesor seperti rekan-rekan seangkatan, jawabnya tegas, ”bila sampai menjadi profesor, tak mungkin saya mampu mendirikan perusahaan Ristra”. Pengalaman panjang dan prestasi tinggi pastilah membanggakan. Mungkin juga membahagiakan. Tak ada alasan buat Retno untuk tidak bangga atau bahagia. Ada pula sesuatu yang lain yang pantas dibanggakan, sekaligus disyukurinya, ialah sumbangan pemikirannya kepada bangsa. Lebih konkretnya, kontribusinya terhadap sistem pengawasan Departemen Kesehatan terhadap kualitas kosmetik bagi wanita. Profesinya sebagai dokter kulit tak cuma membanggakan, tapi juga membahagiakan. Bayangkan, pada dekade 70-an dan 80-an, Retno adalah dokter kulit paling kondang di Jakarta. Paling ngetop, paling laris, yang otomatis paling mahal pula. Sebagai dokter kulit yang laris dan terpandang, Retno tak melalaikan sumpah Hipokrates, bahwa tugas dokter memang untuk kemanusiaan, dan wong cilik yang secara ekonomi kurang beruntung justru lebih berhak mendapat uluran tangan.

The Science of Beauty

Salah satu prakarsa Retno dalam bidang ilmu adalah konsep ”ilmu kecantikan” atau The Science of Beauty, yang dia rumuskan secara resmi dan dipopulerkan di Indonesia dalam rangka promosi peluncuran Ristra pada tahun 1983. pengertian konsep itu ialah kosmetik tidak harus diformulasikan berdasarkan ilmu kesehatan kulit. Didukung oleh bukti-bukti ilmiah, tidak ada kecantikan yang langgeng tanpa kesehatan kulit. Dan dalam rumusan populer Retno waktu itu, terdapat tiga faktor yang harus diperhatikan dalam produksi kosmetik yang sesuai dengan konsep ilmu kecantikan itu, yakni:
1. Lingkungan Alam
Kosmetik yang digunakan harus mempertimbangkan faktor lingkungan alam, misalnya faktor sinar matahari, lingkungan tropis atau subtropis, kelembaban udara di daerah kontinental yang berupa daratan yang luas dan kering misalnya Amerika dan Eropa yang kelembapan udaranya rendah, atau archipelago.
2. Faktor Manusia
Warna kulit manusia dan estetika behaviour-nya (keinginan) berbeda-beda. Orang Asia yang oriental yang berkulit coklat ingin kulit yang berwarna cerah atau putih, karna menganggap kulit putih itu seperti kulit bangsawan, ningrat. Sementara mereka yang berkulit putih seperti pada umumnya orang kaukasia ingin memiliki kulit berwarna cokelat ”Tanned is Healthy and Beautiful”.
3. Faktor Kosmetik itu sendiri
Kosmetik haruslah aman dan sesuai dengan kondisi lingkungan dan jenis kulit pemakainya.
Hingga abad ke-19, kosmetik hanya dilihat sebagai upaya berdandan rupa. Dampak medis dari aneka ramuan dan pewarna yang ditaburkan pada kulit, tubuh, wajah, mata, ataupun bibir, kerap diabaikan dan dipandang tak perlu dihiraukan. Sikap ini baru mulai berubah pada paruh kedua abad ke-19, ketika ilmu kedokteran berkembang pesat, dan komponen-komponen tubuh, termasuk kulit, mulai diketahui secara mendetail struktur dan fungsinya. Pada tahun 1929, ditemukan kadar pH mantel asam yang berkisar antara 3,5-5,0 pada penelitian yang khusus hanya untuk kulit orang Eropa. Mantel asam yang terbentuk secara alamiah ini berfungsi melindungi kulit dari gangguan luar. Agar mantel asam tidak rusak karena gangguan dari luar tersebut, maka sabun dan kosmetik harus memiliki pH yang seimbang (Balance) dengan pH mantel asam, atau harus yang bersifat ”pH Balance”. Singkatnya, obat kulit dan kosmetik harus dibuat sedemikian rupa supaya sesuai dengan pH kulit.
Sumbangan ilmiah terbesar Retno terkait dengan pemahaman akan pH diatas. Meneruskan riset pH yang telah dilakukan dan atas dasar analisis pH yang dilakukan Prof. Lubowe terhadap orang Amerika. Retno melakukan penelitian komparatif tentang pH kulit orang Indonesia. Retno menemukan bahwa pH kulit orang Indonesia adalah 5,60 yang berarti permukaan kulit agak asam. Temuan Retno ini dipresentasikan di International Congress on Cosmetic Dermatology di Wina, Austria, pada tanggal 27-29 Oktober 1989, melalui makalah yang berjudul The Studies of the Value of Sebum, Skin Moisture and pH of the Skin in Indonesians.
Selain ilmu ilmiah murni diatas, Retno juga melakukan terobosan dalam ilmu terapan. Dia menyesuaikan kosmetik produksi Ristra dengan situasi lingkungan alam, faktor manusia, dan maupun faktor kosmetik. Menyangkut faktor ras kulit Indonesia, produk Ristra dibuat sesuai, baik dengan pH yang seimbang maupun dengan struktur pigmen kulitnya.
* * *

Dr. Retno Iswari Tranggono, SpKK, Cosmeto Dermatologist adalah seorang dosen Dermato-Venereologi FKUI, yang pertama kali memperkenalkannya tentang Ilmu Dermatologi Kosmetik, sebagai salah satu cabang Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin (sekarang namanya menjadi Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin). Dr. Retno memperoleh Satya Lencana Wirasistha dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (Perdoski), pada Agustus 2005.

 

Pada tahun 2007 ini Dr. Retno mengeluarkan buku biografi yang menceritakan secara lengkap mengenai sejarah perjalanan kehidupannya dan keluarga, yang berawal dari masa mudanya hingga sekarang ini, kini dapat anda beli buku Biografi “The Entrepreneur Behind The Science of Beauty Inspirator Kosmetik Indonesia” Retno Tranggono, di toko-toko buku terkemuka di seluruh Indonesia seperti; toko buku Gramedia dan Kinokuniya.

 

< Cuplikan : Bab 1 + Bab 2 + Bab 3 + Bab 4 + Bab 5 + Bab 6 + Bab 7 + Bab 8 >

   

 
 
© 2008 Retno Iswari Tranggono | Situs Ristra | Koleksi Pustaka