 |
 |
Bab VII
Quo Vadis, Ristra?
Pada 1993, setelah pembukaan pabrik baru di Citeureup, Ristra berkembang pesat, tanpa mengalami banyak kendala. Perkembangan ini terbantu oleh kenyataan, bahwa sosok Retno tetap mengemuka sebagai figur publik nasional. Nama harum Retno sendiri merupakan jaminan, yang bukan saja sebagai pengusaha sukses, terlebih lagi lantaran popularitasnya selaku dokter ahli kecantikan yang kerap tampil, baik di media elektronik maupun media publik lainnya. Selain itu, Retno juga piawai dalam memberikan nasihat serta penyuluhan secara santun dan mudah dipahami. Jadi, pada periode itu, Ristra berjaya karena tidak terpisahkan dari citra Dokter Retno.
Tidaklah ”sehat” jika situasi menguntungkan seperti itu dibiarkan berlangsung terlalu lama. Ketergantungan berlebih kepada figur, bukan pada keunggulan produk, bisa saja melenakan dan ”menidurkan” daya saing. Untunglah, Retno dan Tranggono cukup jeli dalam membaca situasi dan memahami resiko yang bisa terjadi. Perusahaan beralih dari suatu sistem pengelolaan yang tradisional ke sistem manajemen yang modern. Peralihan ini amat terbantu dengan masuknya Krishna yang bergelar Master Bisnis Administrasi dan mempunyai pengalaman di berbagai perusahaan di luar negeri kedalam tim kepemimpinan perusahaan.
Pada tahun – tahun terakhir rezim Orde Baru, Retno beberapa kali dihubungi oleh orang – orang untuk menjual kepemilikan saham Ristra kepada mereka. Bukan cuma pengusaha lokal saja yang pintar mencium keuntungan jangka pendek, tetapi juga perusahaan internasional. Namun, semua tawaran itu ditolak Retno, ”Saya rasa keputusan ini benar karena perusahaan ini merupakan bayi yang saya lahirkan. Saya susun dan bangun fondasinya untuk masyarakat Indonesia sebagai darma bakti kepada bangsa dan negara. Bila setiap tahun dapat bertumbuh pesat sebagaimana yang dicapai kala itu, maka belum perlu mencari partner usaha” kilah Retno.
Krisis moneter (Krismon) yang berlanjut dengan krisis ekonomi pada 1997 dan 1998 menjadi ujian besar bagi daya tahan Retno dan perusahaannya. Kekalutan sosial dan politik di Jakarta selama beberapa bulan terasa amat berat dampaknya. Di sini ironinya, anjlok rupiah memang mempermahal harga bahan baku komponen impor, tetapi memukul telak harga produk – produk kosmetik asing. Kala itu kosmetik asing mulai membanjiri Indonesia. Walaupun ekonomi Indonesia ambruk, omzet Ristra sebagai satu – satunya merek bermutu tinggi yang terjangkau kocek kaum menengah, malahan naik secara drastis. Tak diduga, krismon telah membawa berkah yang tidak kecil! Pemakai produk kosmetik asing pindah ke produk Ristra.
Artinya, pada peralihan milenium, justru ketika banyak perusahaan Indonesia terpaksa melakukan restrukturisasi atau bahkan gulung tikar, Ristra semakin jaya dan terus melakukan ekspansi. Yang pertama dilakukannya ialah mengonsolidasi House of Ristra, yang menjadi tulang punggung reputasi Retno ketika berpraktik di klinik jalan Sumatra. Pada waktu yang sama juga dirumuskan konsep baru yang kini dikembangkan oleh House of Ristra, yaitu konsep anti-aging clinic, di Grand House of Ristra, yang baru dibuka di Jakarta pada 2006 lalu, dan sesuai dengan etika medis yang diterapkan sejak awal, Retno lebih mengutamakan klinik perawatan kecantikan yang alami. ”kalau memang diperlukan, baru dilakukan tindakan surgery, pembedahan oleh ahlinya”, jelas Retno.
Ristra merupakan satu-satunya perusahaan kosmetik yang berbasis medis. Berbagai penghargaan yang diterima menjadi buktinya. Pada 1993 Retno mendapat penghargaan sebagai Eksekutif Direktur Indonesia dalam penerapan sumber daya manusia (SDM) berkualitas dari Yayasan Pengembangan Mode, Karir & Budaya Indonesia. Pada 2001 award yang lebih membanggakan diterima. Penghargaan ini datang dari Ernst & Young, salah satu perusahaan audit internasional besar di dunia. Kualifikasi pemenang lebih melihat aspek good corporate governance perusahaan yang dinominasikan. Untuk bisa meraih penghargaan Ernst & Young itu, disyaratkan untuk mempresentasikan prestasi perusahaan dalam bentuk visual dengan durasi sekitar lima menit. Saya menekankan di dalam company profile itu ialah industri berkonsep medis yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Sedangkan yang lainnya lebih menekankan segi bisnis kosmetik semata. Mungkin itulah yang menyebabkan saya terpilih oleh dewan juri, agaknya mereka memang memahami perlunya mengutamakan kesehatan atas kecantikan tanpa mengorbankan tujuan akhirnya, yakni penampilan penuh pesona. Tak hanya Retno pribadi yang telah mendapat award. Demikian pula perusahaan. Pada 2004, Ristra mendapat sertifikat International Standard Organization (ISO), yaitu sertifikat jaminan mutu internasional yang ”mencerminkan adanya pengakuan resmi atas standar pelaksanaan manajemen mutu dalam proses Design and Manufacture of Cosmetic Products”, kata Retno bernada serius.selain itu juga pada 2005, Ristra juga mendapatkan ”Innovation Award” dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang bekerjasama dengan majalah SWA dan Lembaga Riset MARS atas produk kosmetik yang berdasarkan atas konsep The Science of Beauty.
* * *
Penghargaan-penghargaan itu tentu saja tak terbilang nilainya bagi Retno dan Tranggono, sekaligus menimbulkan kegamangan tersendiri. Timbul pertanyaan dalam diri, prestasi apa lagi yang kini bisa diraih? Untuk cerita lengkapnya, dapat anda baca dan beli buku Biografi “The Entrepreneur Behind The Science of Beauty Inspirator Kosmetik Indonesia” Retno Tranggono, di toko-toko buku terkemuka di seluruh Indonesia seperti; toko buku Gramedia dan Kinokuniya.
|
|
|
|
|
 |