< Cuplikan : Bab 1 + Bab 2 + Bab 3 + Bab 4 + Bab 5 + Bab 6 + Bab 7 + Bab 8 >

 

Bab VI

 

Pendirian Ristra

Sebagai dokter kulit yang terkenal, Retno menuai sukses finansial. Meskipun sudah mulai memproduksi kosmetik, hingga awal tahun 1970-an tidak segera terpikir oleh Retno dan Tranggono untuk mengembangkannya menjadi sebuah industri yang sesungguhnya. ”kala itu, pembuatan obat acne (jerawat) dan foundation masih saya anggap main-main”, ujarnya sambil tersenyum.Tetapi berselang beberapa tahun kemudian iklim perekonomian menunjukkan gejala berbeda. Saat itu Retno telah dikenal sebagai dokter yang sukses, dan figur publik yang terkenal via TVRI sebagai dokter kosmetik. Pada kurun 80-an itu, kondisi bisnis juga kian menggeliat dan pasar kian dinamis. Saat itulah, momen yang tepat untuk menanam uang dalam industri. Artinya, produk kosmetik pantas dikelola secara lebih serius, secara industrial. Itu pula yang dilakukan Retno dan Tranggono. Babak baru Ristra kini dimulai.
Prakarsa awal mendirikan Ristra tentu saja datang dari Retno ”Dia menguasai ilmunya” kata Dr. AB Ghifari, salah seorang rekan dokter yang memberikan konsultasi kepada Retno. ”Dia menyimak segenap perkembangan yang terjadi di sekitar, bagaimana usaha kosmetik berkembang marak di seluruh dunia, dan menyadari juga bahwa dirinya mempunyai kelebihan di bidang itu. Paling – paling, kalau mempunyai ide, seorang dokter akan membuat klinik saja. Ini yang umumnya terjadi. Misalnya, ahli kulit akan membuka skin centre, dan dengan sendirinya pasien akan datang. Dokter yang pencipta produk, tidak lazim. Luar biasa!dan Retno memang luar biasa!”
Pendirian Ristra bukan semata murni untuk berbisnis. Antusiasme tinggi untuk membangun industri kosmetik itu tidak semata atas dasar perhitungan dan aksioma bisnis belaka: memproduksi sesuatu yang jika laris dijual otomatis mendatangkan banyak keuntungan. Ristra berdiri lebih sebagai ”kelanjutan” semangat keilmuannya, sebagai bentuk komitmen sosial Retno terhadap wanita Indonesia. Sebagai dokter kulit, Retno merasa mempunyai kewajiban untuk menyumbangkan temuan kreatifnya – sebuah produk kosmetik yang cocok untuk kulit tropis.
Berbekal merek Ristra yang bekonotasi modern sekaligus membumi alias meng-Indonesia, Retno dan Tranggono tinggal membangun perusahaan secara profesional. Disini prinsip Retno jelas: produksi kosmetik mesti mencerminkan segi medis dari perawatan kulit. Dia ingin Ristra tampil sebagai perusahaan yang berciri cosmedic, yaitu medicated cosmetics. Tuntutan Retno ini mutlak, lantaran terlanjur dikenal luas sebagai dokter kulit, yang senantiasa menganjurkan pendekatan ilmiah pada perawatan kulit. Maka citra medis harus dipertahankan, dan terus disebarluaskan. Sedikit masalah timbul. Istilah cosmedic bernada terlalu ilmiah. Terlalu ”canggih” dan kering, paling tidak dari sudut pemasaran produk. Retno dan Tranggono akhirnya memutuskan sebuah filosofi The Science of Beauty, kecantikan yang dilatar belakangi oleh konsep kesehatan kulit yang mempertimbangkan tiga faktor penting; lingkungan alam, kulit manusia dan kosmetik itu sendiri. Otomatis, Ristra memiliki image sebagai perusahaan kosmetik yang mengedepankan kecantikan dan kesehatan kulit. Retno menyadari, bahwa science yang dimaksud oleh Ristra harus tercermin pada realitas produk itu sendiri, dengan persyaratan ilmiah yang ketat di dalam seluruh proses produksinya. Pembuatannya harus berstandar modern dan higienis, harus ber-pH balanced, maksudnya harus sesuai dengan kadar keasaman kulit orang bersangkutan. Bahan bakunya juga wajib lolos dalam tiga tes uji keamanan, yaitu tes tempel, tes aplikasi dan tes efikasi. Semua tes tersebut dilakukan pada kulit sukarelawan. Dengan persyaratan ilmiah yang multikompleks inilah, Retno dan Tranggono menganggap Ristra telah siap masuk pasar, dan bersaing baik dengan kosmetik lokal maupun impor. Terutama, berkompetisi dengan kosmetik yang tidak sesuai dengan kulit orang Indonesia di negara tropis.
Begitu bergemanya nama Retno Iswari Tranggono di kalangan wanita, sehingga di luar negeri pun namanya tak asing. Dia kerap dimintai untuk memberikan ceramah, berikut nasihat kecantikan. Tanda paling nyata dari popularitas Retno berupa kunjungan para anggota DPR, tepatnya komisi VII yang membidangi soal kesehatan, ke pabrik Ristra. Karena, anggota delegasi itu sebagian juga dokter, Retno memberikan ceramah seperlunya apa itu Ristra dan mengapa kosmetik harus yang tidak merusak kulit dan sesuai dengan kulit kita orang Indonesia. ”Hikmahnya, ceramah itu tidak hanya didengarkan oleh anggota DPR, tetapi juga diliput TVRI dan pada hari yang sama ditayangkan pada acara Dunia Dalam Berita malamnya. Jadi, ditonton oleh orang di seluruh Indonesia”.
Citra Retno sebagai figur publik yang mengkristal sebagai dampak ceramah dan dan liputan pers tentu saja berdampak pada citra dan pemasaran produk Ristra. Produksi terus berdetak, kian lama kian meningkat. Dampak susulan, ragam produk yang dihasilkan pun bertambah banyak. Bermula dari hanya dua produk pada tahun 1983 – JJ Foundation dan Acne Lotion, yang tiga tahun kemudian menjadi 9 produk. Yakni; JJ Foundation, Acne Lotion, Extremly Gentle Cleansing Milk, Toning Lotion, Astrigent Lotion I, Astrigent Lotion II, Moisturizing Cream, Skin Cream, dan Face Powder. Citra Ristra yang tadinya hanya membuat “obat” perawatan kulit meningkat menjadi perusahaan yang menyediakan seluruh rangkaian produk kosmetik perawatan kulit. Belakangan produksinya dibagi menjadi lima kelompok utama, yang terdiri dari produk perawatan kulit (pembersih dan penyegar), produk pelembab dan pelindung kulit, produk tata rias (decorative/ make up), perawatan dan pengobatan (treatments) dan perawatan rambut. Pada akhir tahun 1990-an sudah ada 82 items yang diproduksi.
Sukses fantastis yang diraih Ristra dan Retno pada pertengahan tahun 1980-an itu berdampak terhadap praktik medisnya. Sedemikian populer dan laris, sehingga Retno tak mampu menangani lagi semua klien sendiri. Tak terelakkan, maka sebagian dari pekerjaannya mesti diwakilkan. Di lain pihak dia tidak ingin kehilangan kontrol atas sistem yang telah dia kembangkan dengan susah payah selama lebih dari 20 tahun. Kebutuhan itu dijawab dengan mendirikan House Of Ristra, tempat yang memadukan layanan klinik dokter kulit dengan layanan salon kecantikan, seperti halnya praktik awal Retno di jalan Sumatra. Dengan kata lain, The Science Of Beauty diterapkan melalui perawatan kecantikan yang sehat nan aman, lengkap dengan penggunaan teknik-teknik mutakhir. Penerapan secara konkret konsep ”Ilmu Kecantikan” itu di House of Ristra tentu saja berbeda dengan salon kecantikan biasa lainnya. House of Ristra I, dulu Ristra House dibuka pada 1987 di Jl. Sumatra 24 yang dikontrak selama 5 tahun. Disusul setahun kemudian, pada tahun 1988, dibukalah House of Ristra II di Jl. KH. Ahmad Dahlan 30 dan House of Ristra III di Jl. Diponegoro, Surabaya. Kemudian, pada tahun 1992 rumah kecantikan serupa dibuka pula dikawasan Bandung (Jawa Barat) dan Semarang (Jawa Tengah). Kini, Ristra House I di Jl. Sumatra 24 menjadi House of Ristra Menteng, Jl. Sumatra 12, dan Ristra House II di Jl. KH. Ahmad Dahlan 30 menjadi Grand House of Ristra di Jl. Radio Dalam Raya 5, Jakarta.
Dilema Pohon yang Tinggi; pohon yang tinggi, apakah selalu mesti dipotong? Peribahasa kuno itu dikutip Retno untuk menjelaskan posisinya yang rumit, ketika profesinya sebagai dokter kulit dan bisnis kosmetiknya yang kian ngetop, ternyata melahirkan sebuah fenomena klasik. Sukses ternyata bisa atau bahkan biasa mengundang cercaan. Serangan bertubi-tubi justru dari kalangan seprofesi. Jadi, apakah pohon yang terlalu tinggi biasanya harus dipotong? Tudingan itu, demikian Retno, dianggapnya tidak berdasar. Retno merasa tidak menjadi dokter yang berdagang. Motifnya, tidak karena kemaruk uang yang harus dibayar pasien. Ketika kosmetik racikan sendiri dibisniskan, juga semata bukan berlandaskan motif finansial semata. Jelas sekali, Retno lebih tepat disebut sebagai scholar scientist – ilmuwan kedokteran yang mendidik.
Pada tahun 1990-an, bersama stafnya – Dra. Fatma Latifah Apt. dan Dra. Rosali Apt., Retno pergi ke Bogor untuk survei mencari tanah. Sebelumnya, sempat terpikir untuk mencari tanah di daerah Tangerang, tetapi batal. Sumber air tidak bersih, tidak klop dengan kebutuhan produk kosmetiknya yang mensyaratkan kualitas dan keamanan. Akhirnya, sebidang tanah di daerah Bogor, tepatnya di Citereup, ditemukan. Sebuah daerah pinggiran yang masih rindang yang cocok untuk pertanian – satu obsesi lama Retno yang tampaknya tak sepenuhnya padam. Anak kedua pasangan Retno dan Tranggono, Krishna yang pada 1992 menyelesaikan masternya di bidang Operation Research menyambut tantangan ”pemindahan pabrik” ini dengan semangat yang tinggi. Dialah yang membuat konsep pabrik serta mengawasi pelaksanaannya.
Tentu saja, bukanlah hal mudah untuk memindahkan sebuah pabrik yang sudah mapan beroperasi. Proses produksi tak mungkin dibiarkan terhenti. Maka, proses pemindahan berlangsung secara bertahap. Tepat pada hari ”H” yang dijadwalkan, tak kurang dari delapan truk dipakai untuk memboyong mesin produksi berukuran besar. Retno dan Tranggono yang hadir dalam acara eksodus itu antusias sekaligus pilu. Ruangan demi ruangan di rumah bersejarah itu satu demi satu dikosongkan. Pertumbuhan yang semula acak kini lebih rasional berdasarkan logika produksi. Arsitektur dan desain pabrik betul – betul ditata berdasarkan rasionalitas produksi. Sebuah pabrik yang modern. Bahkan, bangunan pabrik yang memadai itu hanya mengambil sebagian tanah. Masih ada sisa tanah yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan lain. Sisa tanah kosong itulah yang didaya gunakan oleh Retno untuk menuntaskan obsesi lamanya. Bertani.
Di bagian kiri bangunan ditanami buah-buahan, di sebelah kanan ditanam berbagai macam bunga. Jadi dari tangan feminin Retno turut menghiasi lingkungan pabrik di Citereup yang memang asri itu. Di pabrik Citereup, seperti di kantor – kantor Ristra pada umumnya, sebagian terbesar dari staf pimpinan terdiri dari wanita. Mereka umumnya merupakan cerminan Retno: perempuan yang dinamis nan anggun, sopan dan bersuara halus. Rata – rata juga ilmuwan, yang terampil berkat binaan dan didikan Retno.
Retno dan Tranggono telah berhasil mengeksplorasi kemampuan sumber daya manusianya. Diantara perusahaan kosmetik Indonesia, Ristra dikenal memiliki tenaga teknis dan medis yang terampil, terdiri dari para dokter kosmetologi, ahli farmasi, ahli biologi, dan tentu saja aneka ahli kecantikan dan teknisi yang piawai di bidang lainnya. Retno dan Tranggono memang telah menyulap Ristra menjadi perusahaan besar. Mereka tidak lagi tampil sebagai ”pejuang” yang harus menyelesaikan setiap masalah yang muncul, melainkan sebagai pemegang sistem manajemen. Retno sebagai pencetus ide dan Tranggono sebagai pengelola. Singkatnya, perannya beralih dari entrepreneur menjadi profesional.
* * *

Cerita selanjutnya dapat anda baca dan beli buku Biografi “The Entrepreneur Behind The Science of Beauty Inspirator Kosmetik Indonesia” Retno Tranggono, di toko-toko buku terkemuka di seluruh Indonesia seperti; toko buku Gramedia dan Kinokuniya.

 

< Cuplikan : Bab 1 + Bab 2 + Bab 3 + Bab 4 + Bab 5 + Bab 6 + Bab 7 + Bab 8 >

   

 
 
© 2008 Retno Iswari Tranggono | Situs Ristra | Koleksi Pustaka