< Cuplikan : Bab 1 + Bab 2 + Bab 3 + Bab 4 + Bab 5 + Bab 6 + Bab 7 + Bab 8 >

 

Bab V

 

Dari Ilmuwan ke Usahawan

Sebagai wanita yang menganggap dirinya seorang Ilmuwan, Retno Tranggono ingin menguji relevansi temuannya – yaitu bahwa kosmetik seharusnya disesuaikan dengan kondisi setempat, baik genetis maupun iklim – di hadapan masyarakat ilmuwan dan ahli-ahli kosmetik dunia. Dia yakin, bila temuannya mendapat pengakuan internasional, segi terapannya, yaitu produksi kosmetik yang kelak disebut Ristra itu, akan berkembang dan lebih mudah diterima kalangan luas, tanpa kendala berarti. Maka disepanjang tahun 1975-1985, kiprah Retno merentang ke tiga arah utama; membuka hubungan dan komunikasi ilmiah dengan rekan-rekannya di bidang-bidang yang terkait dengan Dermatologi dan kosmetik. Yang akhirnya, dengan dibantu oleh suaminya Tranggono, dia mengembangkan produksi di Rajawali Selatan menjadi perusahaan Ristra, dengan meluncurkan dua produk kosmetik pelopor, yakni Acne Lotion dan JJ Foundation. Tak dapat disangkal, bahwa didasar karakteristik Retno terdapat ciri-ciri dasar seorang ilmuwan murni.
Ketidaktepatan produk kosmetik asing bagi kulit orang Indonesia ditemukan Retno atas dasar satu sikap mendasar: kritis dalam segala hal. Termasuk kritis terhadap ilmu pengetahuan. Sikap yang demikian bukanlah hal yang mudah selaku mahasiswa ataupun dokter muda. Tetapi, janganlah dikira Retno puas hanya dengan teori medis saja. Sejak di Viva, dan menyadari bahwa tak ada obat yang layak dipasar, dia mulai mempelajari sendiri reaksi kulit terhadap produk kimia modern dan pembuatannya. Tak jarang dia ditemukan suntuk di perpustakaan rumah, tengah mencari-cari rumus kimia kosmetik. Atau, bahkan seharian mendekam di laboratorium dan bereksperimen untuk menemukan formula- yang kemudian dicoba dikulitnya sendiri. Pendeknya, setengah otodidak, Retno muda – ketika itu masih di Viva – sudah meletakkan dasar bagi pendekatan cosmedic, yaitu perpaduan antara pendekatan medis dan kosmetik yang kelak menjadi ciri utama Ristra.
Salah satu hal yang menarik dalam riwayat Retno ialah ”kerakusannya” pada buku – buku ilmiah. Sikap inilah yang mengantarnya pada hubungan erat dengan salah seorang tokoh terkemuka dari dunia kosmetik Amerika Serikat, yaitu Profesor Irwin I. Lubowe, M.D. pada saat Regional Congress Of Dermatology (1978) di Bali. Kala itu Retno masih mengikuti kongres Cidesco di Brighton, Inggris. Begitu Retno pulang ke tanah air dan tiba di Bali, rekan – rekan panitia memberitahukan adanya kedatangan Prof. Lubowe dan dia langsung memperkenalkan dirinya. Pengalaman Retno dengan Prof. Lubowe sekeluarga tidak terhenti di situ saja. Persahabatan yang kemudian tumbuh bakal berdampak besar bagi Retno dan perusahaannya. Kecocokan ilmiah antara si mentor Amerika dan Retno lama – kelamaan menjadi hubungan ”persaudaraan” yang semakin akrab dan pribadi. Jadi kunci sukses Ristra sebagian terinspirasi dari Prof. Lubowe. Mulai tahun 1982, setiap kali berkunjung ke Amerika Serikat, Retno selalu meluangkan waktu untuk singgah ke apartemen Prof. Lubowe, di Suttonplace South 45, yang bertetangga dengan Henry Kissinger.
Retno belakangan memang semakin sering ke Amerika Serikat, terutama untuk mengunjungi anak – anaknya; Sasya dan Krishna Tranggono, yang kuliah di Syracuse University, New York.
* * *

Bagaimana awal Pendirian Ristra? Untuk lebih lengkapnya, dapat anda beli buku Biografi “The Entrepreneur Behind The Science of Beauty Inspirator Kosmetik Indonesia” Retno Tranggono, di toko-toko buku terkemuka di seluruh Indonesia seperti; toko buku Gramedia dan Kinokuniya.

 

< Cuplikan : Bab 1 + Bab 2 + Bab 3 + Bab 4 + Bab 5 + Bab 6 + Bab 7 + Bab 8 >

   

 
 
© 2008 Retno Iswari Tranggono | Situs Ristra | Koleksi Pustaka