< Cuplikan : Bab 1 + Bab 2 + Bab 3 + Bab 4 + Bab 5 + Bab 6 + Bab 7 + Bab 8 >

 

Bab IV

 

Menjadi Dermatolog

Pada tahun-tahun terakhir rezim Orde Lama, produk kosmetik terhitung barang mewah. Hanya segelintir orang yang mampu membelinya, belum ada produk lokal. Kelas menengah yang hingga waktu itu cuma lapisan tipis dengan kemampuan finansial yang terbatas pula, tiba-tiba tampil dinamis dengan akses pada uang tunai yang sebelumnya sulit terbayangkan. Surat kabar dan majalah baru diluncurkan, termasuk media cetak yang khusus diarahkan kepada pembaca wanita. Otomatis, berbagai artikel tentang dunia mode, fashion, kecantikan, kesehatan, dan sejenisnya mulai membanjir. Termasuk aneka ragam barang kosmetik dan produk fashion asing. Sejalan dengan kemajuan ekonomi yang dialami Indonesia, muncullah pula konsumen wanita modern berikut suatu pasar khusus untuk perawatan kulit dan produk-produk kecantikan. Pasar itulah yang dikemudian hari menjadi lahan usaha Retno dan beberapa pengusaha kecantikan Indonesia lainnya.
Retno lulus sebagai spesialis Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin tepat pada waktu perekonomian Indonesia mulai bergerak tumbuh, yaitu tahun 1968, satu tahun setelah melahirkan anak keduanya – Krishna Nindita, pada tanggal 21 Juli 1967. Sesuai permintaan ibu Tan Tjoa, Retno membuka praktik dokter kulit disalah satu ruangan Salon Viva, seminggu sekali seusai bekerja di RSCM. Semakin lama berpraktik sebagai dermatolog, semakin jelas bagi Retno bahwa terapi perawatan kulit yang selama ini diterapkan di Indonesia menimbulkan masalah. Selain pola terapi berdasarkan pengetahuan warisan zaman kolonial, dunia farmasi juga belum menunjang, produk obat tidak banyak tersedia. Kalaupun ada, produk impor itu belum tentu cocok dengan kulit wanita tropis.
Berpraktik di salon Viva lama-lama membuat Retno merasa ”tidak enak hati”. Agaknya yang kini laris dan ramai bukan lagi salon itu. Ruangan praktiknya kian padat, kian populer dikalangan wanita. Agar tidak mengganggu, Retno mulai berpikir untuk membuka praktik ditempat lain. Di rumah sewaan, syukur-syukur jika lokasinya tak terlalu jauh dari salon Viva. Kepada setiap pelanggan, terutama yang tinggal di jalan Sabang, dia tak bosannya menanyakan tentang rumah yang bisa disewanya. ”kayak diatur Tuhan, katanya” diantara pasien-pasien tetapnya di salon Viva, terdapat wanita agak tua, Ibu Kiemas, yang kerap datang untuk meminta Retno mengobati bintik-bintik hitam yang ada diwajahnya. Seminggu kemudian berlalu, kemudian Ibu Kiemas datang lagi untuk perawatan lanjutan. Lalu sambil menjalani perawatan Ibu Kiemas berkata, saya sesungguhnya mempunyai sebuah garasi belakang yang belum saya selesaikan. Ya, ibu Dokter boleh menyelesaikannya agar bisa dipakai, mengenai pembayaran, terserah ibu Dokter saja, ucap Ibu Kiemas.
Begitulah, garasi Ibu Kiemas dibenahi dan pada waktunya dengan berat hati Retno terpaksa berpamitan kepada Ibu Tan Tjoa dan teman-teman di Salon Viva. Di tempat praktik yang baru ini, Retno tak hanya buka sekali seminggu. Kini tiga kali, seiring semakin bertambahnya jumlah wanita yang membutuhkan jasanya. Kala itu, kegiatan Retno sebagai ”pejabat” kesehatan sesungguhnya tidak kurang penting daripada kegiatannya sebagai perintis kosmetik modern. Di FKUI, tempatnya mengajar, begitu lulus spesialisasi, dia langsung berjuang untuk mendirikan suatu jurusan yang khusus menangani masalah kosmetik dan kecantikan, yang akhirnya pada tanggal 1 April 1970, Sub-Bagian Kosmetik dan Bedah Kulit (sekarang disebut Kosmeto-Dermatologi) diresmikan dan Retno diangkat sebagai kepalanya.
Intervensi Retno tidak terhenti pada posisi ”luhur” kedokteran. Dia juga memanfaatkan kedudukan sebagai Kepala Sub-Bagian Kosmeto-Dermatologi, yang dipegang sampai tahun 1983, untuk menawarkan pengaderan medis bagi salon-salon kecantikan. Retno membuat pilot project perawatan kulit yang benar, dimulai dengan dua perawat yang disekolahkan di kursus kecantikan dijalan Kimia:kemudian dua lagi menyusul. Retno sangat bangga atas prestasinya, karena sebelumnya di dunia tidak ada ilmu kosmetik yang diangkat di dalam ilmu kedokteran. Ditengah kegiatannya di UI itu, kesulitan tak terduga – yang teratasi oleh solusi yang juga tak tersangka – harus dihadapi. Ibu Kiemas, meminta Retno untuk pindah dari garasi yang dipakai Retno sebagai tempat praktiknya. Karena, Taufik, salah satu putra Ibu Kiemas yang masih kuliah dan merupakan aktivis Gerakan Mahasiswa Nasionalis Indonesia (GMNI), hendak menikah. Taufik yang bakal menyunting seorang wanita dari kalangan nasionalis juga: Megawati Soekarnoputri, putri mendiang Presiden Soekarno. Pada tahun 1973 itu, acara pernikahan Taufik dan Megawati hendak diselenggarakan di rumah itu. Tak ada pilihan bagi Retno kecuali pindah dari rumah Ibu Kiemas. Padahal, Retno saat itu sedang sangat sibuk sejak kelahiran anak ketiganya, Indira Parwitasari, 13 Januari 1972. tetapi, sewaktu dirumah Retno iseng-iseng membuka koran Sinar Harapan, langganannya. Ternyata, tepat disamping rumah ibu Kiemas ada tempat yang disewakan. Tanpa berpikir panjang, rumah itu langsung dibidiknya untuk bisa dikontrak. Kepindahan ke tempat kontrakan baru ini memberikan berkah untuk Retno. Pagi dipakai sebagai salon untuk perawatan kulit, sore hari (Senin, Rabu, dan Jumat) dimanfaatkan sebagai tempat praktik. Kaum wanita kelas menengah akhirnya punya salon baru: Salon Dokter Retno.
Di dalam perkembangan usaha Dokter Retno itu, peranan Dr. Tranggono tak bisa diabaikan. Sambil tetap aktif dikemayoran, sebagai Psikiater Tranggono juga membuka praktik di tempat yang baru, di suatu ruang tepat di belakang ruang praktik istrinya. Tentu saja, karir Tranggono sebagai Psikiater Angkatan Udara terus berlanjut hingga menjadi perwira kolonel yang membangun Rumah Sakit Angkatan Udara yang kini berdiri tegak di bekas lapangan udara Halim Perdana Kusuma. Di Angkatan Udara semua orang ”tahu” Dr. Tranggono, yang memberikan nasihat ataupun obat kepada penerbang atau anggota keluarganya yang sedang ”depresi” terlebih Tranggono juga mempunyai istri yang namanya mulai disebut di pers sebagai dokter jerawat. Kesuksesan produk kosmetik Retno dibilangan Kemayoran, memulai sistem distribusi produk Ristra, dan langsung mencakup ke seluruh Indonesia.
Di tengah perkembangan itu, produksi Ristra dipindahkan kerumah Retno dan Tranggono yang baru di jalan Rajawali, Kemayoran, yang cukup luas. Meskipun masih dalam skala kecil, pada tahun 1973-1975 Retno sudah mempunyai beberapa pegawai. Ada yang meracik bahan kimia, ada juga yang mempersiapkan packing. Tranggono mengawasi perkembangan produksi, sementara Retno terus mencari atas dasar penemuan di praktiknya. Formula-formula baru kosmetik untuk para wanita Indonesia.
Retno telah tersulap menjadi figur publik. Sebagai dokter kulit, Retno memberikan penyuluhan-penyuluhan kepada masyarakat dan para ahli kecantikan Tiara Kusuma yang berkerja sama dengan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) di TVRI. Ketika tampil di televisi untuk memberikan penyuluhan dan nasihat tentang penggunaan kosmetik, Retno mau tak mau kian populer dan disulap menjadi sejenis ”bintang”: seorang dokter muda, cerdas, cantik, dan pakarnya di bidang kosmetik dan kecantikan. Retno lalu menjelma menjadi panutan dari jutaan wanita Indonesia.
* * *

Bagaimana kisah Retno yang mulai merubah jalan hidupnya dari seorang Ilmuwan menjadi seorang Usahawan? Selanjutnya dapat anda beli buku Biografi “The Entrepreneur Behind The Science of Beauty Inspirator Kosmetik Indonesia” Retno Tranggono, di toko-toko buku terkemuka di seluruh Indonesia seperti; toko buku Gramedia dan Kinokuniya.

 

< Cuplikan : Bab 1 + Bab 2 + Bab 3 + Bab 4 + Bab 5 + Bab 6 + Bab 7 + Bab 8 >

   

 
 
© 2008 Retno Iswari Tranggono | Situs Ristra | Koleksi Pustaka