 |
 |
Bab III
Menjadi Ahli Kulit dan Kosmetik
Adalah menarik menyimak seberapa jauh faktor kebetulan, di dalam garis hidup dan karier seseorang. Inilah, yang disebut misteri hidup: pertemuan secara tak terduga antara Retno dengan seorang wanita tua itulah yang mendorongnya untuk terjun di dunia kosmetik. Wanita itu bernama Bo Tan Tjoa, yang lahir di Bukit Tinggi, 4 Maret 1920, dan meninggal di Jakarta, 26 Januari 2007. Pertemuan itu berlangsung 43 tahun silam, dimana Retno dan Tranggono baru saja menikah. Selain cocok dengan Ibu Tan Tjoa, tanpa kesulitan dia segera dapat membina pertemanan yang hangat dengan salah satu ahli kecantikan, Ibu Nelly Hakim. Keakraban dan pertemanan diyakininya bakal membuat atmosfer kerja menyenangkan. Maka, mulailah Retno sambil kuliah di tingkat 5 sebagai doctoranda medicus, bekerja di Viva Health and Beauty Institute di Jalan Sabang 32. Pada waktu itu kosmetik memang belum dikenal seperti sekarang ini. Jadi, saya terdorong untuk memperdalam pengetahuan medis dibidang kulit dan menjadi dokter ahli kulit. Retno juga merupakan orang pertama di Indonesia yang mengubah pemahaman ”rumus kecantikan” orang Belanda, yang tidak menganjurkan untuk menyabunkan kulit wajah. Karena, menurut mereka kandungan soda dalam sabun dinilai menyebabkan kulit kering dan rusak. Retno merubah pemahaman bagi setiap pasien-pasiennya yang mengunjungi Viva, dia menganjurkan supaya tidak segan-segan untuk mencuci muka dengan memakai air dan sabun. Hal ini sesuai dengan ilmu kedokteran yang dipelajarinya, bahwa cara paling baik untuk mencegah serangan penyakit apapun, termasuk acne (jerawat), ialah dengan menjaga kebersihan.
Ditengah huru-hara politik istri mana yang tidak kangen setelah ditinggal pergi suami selama berbulan-bulan? Istri mana pula yang tidak berbunga-bunga ketika sang suami hendak pulang? Retno pun demikian. Siapa yang tidak akan ketar-ketir, selama beberapa waktu tak diterimanya kabar dari suami. Biasanya dalam sepekan dua surat dia terima. Usut punya usut, ternyata ada satu bundel besar surat dari Tranggono kepada Retno, semua telah dibuka dan jelas-jelas telah dibaca. Dia menduga pastilah ada intel yang diam-diam ”mengintip” surat-surat suaminya. Entah atas perintah siapa! Yang pasti si intel pastilah sangat kecewa berat, karena tak menemukan aroma politik apa pun dalam surat-suratnya kepada Retno. Apalagi berbau komunisme atau sosialisme, mengingat isinya yang hanya pernyataan-pernyataan cinta atau rencana-rencana masa depan sebatas kehidupan rumah tangganya.
Pada tahun 1965, setelah Retno meraih gelar dokter dia berkeputusan untuk melanjutkan spesialisasinya di bidang Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Sebuah pilihan yang logis, karena telah cukup lama menjadi guru sekolah kecantikan. Lewat spesialisasi itulah pengetahuannya tentang kulit diperdalam. Namun, menurut sejumlah rekan-rekannya yang jahil Dokter Kulit dan Kelamin lazim dinobatkan dengan atribut lucu: dokter kere. Retno tak ambil pusing, dia tetap teguh pada pendiriannya. Dan memang, pilihannya ternyata tak keliru. Bahkan, dialah yang bakal merintis perpaduan ilmu kedokteran dengan kosmetik di Indonesia.
Disertasi kedoktoran Retno khusus mengkaji masalah jerawat. Dia tertarik meneliti jerawat karena teringat masa-masa pahit ketika harus diberi gelar ”Janda Bopeng” sewaktu masa kuliah dulu. Terlebih lagi, sebagai pengajar di Viva Beauty and Health Institute, Retno tahu betapa besar pengaruh ”Jerawat” dan penyakit kulit pada umumnya terhadap harga diri wanita muda, dan betapa mustahilnya menanganinya dengan perawatan ala kadarnya. Retno sama sekali tidak menduga bahwa penelitiannya tentang jerawat itu akan menjadi cikal bakal pendirian perusahaan kosmetik yang kini dikelolanya, yaitu Ristra.
* * *
Bagaimana kisah Retno yang memilih profesi sebagai Dermatolog. Dapat anda beli buku Biografi “The Entrepreneur Behind The Science of Beauty Inspirator Kosmetik Indonesia” Retno Tranggono, di toko-toko buku terkemuka di seluruh Indonesia seperti; toko buku Gramedia dan Kinokuniya.
|
|
|
|
|
 |