< Cuplikan : Bab 1 + Bab 2 + Bab 3 + Bab 4 + Bab 5 + Bab 6 + Bab 7 + Bab 8 >

 

Bab II

 

Masa Kuliah Retno.

Masa kuliah Retno dijalankan di Fakultas Kedokteran UI (FKUI), karena ayahnya yang menyarankan untuk memilih kuliah di kedokteran di Jakarta. Saya masih ingat nasihatnya waktu itu "kenang Retno,"Sebaiknya kamu kuliah di Jakarta, karena ada kakak-kakakmu yang mengawasi", lanjut Retno mengulang "Petunjuk" ayahandanya. Selain alasan itu, terdapat pula alasan lain yakni kebanggaan atas prestasinya lulus seleksi. Dari 1500 calon mahasiswa yang telah disaring pada tahap awal, hanya 10%, yaitu sekitar 150 orang saja yang diterima, termasuk Retno. Retno serta-merta menjadi bagian dari calon elite intelektual dan professional bangsa. Menjelang masuk, pada awalnya Retno sedikit cemas dan waswas atas jurusan yang dipilihnya itu. Untunglah Retno sangat menyukai ilmu alam, terutama biologi. Nilainya selalu A dalam mata pelajaran itu. Selain itu, terdapat alasan lain juga yang meskipun tak pernah dinyatakan - yang memperkuat tekadnya untuk menekuni dunia kedokteran, yakni wajah Retno yang kala itu berjerawat.    
Soal wajah jadi urusan besar buat Retno. Dimanapun berada wajahnya selalu dicoba untuk disembunyikannya, karena terdapat bintil-bintil menjengkelkan yang dinamai jerawat. Pada awalnya dia tidak merasa terganggu, namun lama-kelamaan timbul rasa risih dan sedikit jengah juga, apalagi ketika ditatap pria muda, dan paling mengerikannya lagi ketika ia sedang memandangi wajah sendiri di kaca.
Sehingga dia ingin mempelajari segala hal tentang kulit agar dapat menyembuhkan noda yang merusak wajahnya itu. Lebih jauh, dia ingin menemukan resep mujarab untuk mengobati jerawat alias acne di wajah yang sering menjadi masalah. Dan, kemudian impian ini menjadi kenyataan di kemudian hari.
Kebanggaannya diterima di FKUI yang sempat membuncah segera sirna bersamaan datangnya masa perpeloncoan. Episode di masa awal kuliah ini meninggalkan kenangan yang mendalam. Perpeloncoan selama dua minggu di zaman itu sungguh sangat keras, bahkan bisa dinilai berlebihan. "wah, kalau kita terlambat dan pita kita tidak rapi pastilah akan disetrap dan mendapat hukuman yang kadang bikin malu atau menangis, saya juga pernah dihukum gara-gara di hari kedua tidak menguncir rambut. Saya kira hanya di hari pertama saja" cerita Retno sambil tertawa. Rambutnya panjang, wajahnya cantik, tidaklah aneh jika ada mahasiswa yang coba mendekati. Anehnya, Retno merasa kurang pede karena berjerawat. Celakanya, kekurangan ini menjadi sasaran empuk bagi seniornya. Senior pria kesal, karena taksirannya tidak dibalas. Senior wanita iri, lantaran kecantikannya. Maka, dia menjadi bulan-bulanan para seniornya. Vonis yang paling berat datang dari senior perempuan yang memberi Retno gelar tak terhormat: si Janda Bopeng. Diledek "Janda" karena tidak mempunyai pacar, dan "Bopeng" karena wajahnya berjerawatan. "Wah, waktu itu saya merasa sakit hati juga dipanggil julukan itu, ini memang akibat jerawat, hingga wajah saya jadi bopeng", ujar Retno. Tetapi, suatu hari Retno mencoba mencuci wajahnya dengan sabun Vinolia, yang kebetulan ditemukannya di toko kelontong. Kelihatannya kasar, tetapi sewaktu dipakai untuk membersihkan wajah, ternyata mengejutkan. Wajahnya tidak hanya menjadi lebih bersih. Jerawatnya juga tampak mengering, bahkan lama-lama menghilang. Gelar "Janda Bopeng" akhirnya layak ditanggalkan Retno. Pokoknya, pada waktu itu, Retno tidak bedanya dengan setangkai bunga mawar yang biar diembus angina kencang, tetap berdiri tegak, dan dengan sabar menanti datangnya sang kumbang untuk menghisap sarinya.
Ternyata kumbangnya tidak jauh dan musim cerah, seperti tersurat di dalam nama kumbang jantan itu: Suharto Tranggono, " terang ing gegono " yang sama-sama dari Fakultas Kedokteran UI Jakarta seperti Retno. Semuanya bermula dari ajakan mengikuti camping mahasiswa FKUI dan Psikologi UI pada akhir tahun tingkat kedua di bulan Juli 1960. Di camping Retno terlihat selalu bersama-sama dengan kedua teman kakak kelasnya, yang sama-sama belum mempunyai pacar. Maksud hati Retno ingin menjodohkan keduanya itu dengan beberapa teman prianya. Tapi, ternyata justru Retno yang ditaksir oleh rekan mahasiswa dari ITB dan IKIP. Hatinya justru tergelitik oleh perkenalannya dengan Suharto Tranggono, seniornya yang luput dari perhatiannya. Perkenalan mereka terjadi di hari pertama mereka bertemu, di acara makan siang bersama.  
Perkenalan mereka berdua akhirnya berlanjut pada obrolan akrab. Laksana gayung bersambut, pembicaraan mereka beralih dari satu topik ke topik lainnya. Kumbang agaknya sudah berdengung di seputar putiknya. Apakah Retno langsung jatuh hati??
Seselesainya acara camping itu, Retno pulang ke rumah orang tuanya di Semarang untuk menghabiskan sisa liburannya. Walaupun sudah saling bertukar alamat dengan Tranggono, dia tidak terlalu memikirkannya. Lain halnya dengan Tranggono, ibarat Arjuna, yang sudah tahu bahwa Retno sudah berada dalam jangkauan dekapannya. Mumpung ia harus ke Jawa Tengah untuk menengok keluarganya di Tegal, Tranggono memanfaatkan kesempatan untuk singgah ke Semarang. Dia tidak memberitahukan kedatangannya kepada Retno, karena ingin membuat kejutan. Maka, pada 17 Agustus 1960, Tranggono yang ditemani teman mainnya semasa di Tegal tiba di depan pintu rumah Retno. Saat itu Retno sedang tidak ada dirumah, saat kembalinya ia kerumah, dia dipanggil dari jauh oleh ayahandanya. "Retno, kamu ada tamu! Katanya, temanmu, mahasiswa dari Jakarta, dua orang! Mereka menunggu di ruang tamu". Meskipun setengah kaget dan tak percaya, dia sontak tersipu oleh kedatangan lelaki muda itu. Dua minggu setelah pertemuan di Semarang itu, Retno dan Tranggono bertemu kembali di Jakarta. Yang pasti, beberapa minggu setelah kunjungan Tranggono ke Semarang, berita sudah menyebar luas di kalangan mahasiswa kedokteran bahwa dia adalah "pacar" Retno. Pacaran di masa itu tentu agak berbeda dengan pacaran di masa sekarang, mereka tidak bisa mengabaikan korelasi dan tanggung jawabnya kepada keluarga. Etika priyayi yang mewajibkan menjaga nama baik keluarga mesti dijunjung tinggi, martabatnya sebagai wanita juga mutlak harus dipelihara.
Beberapa waktu sesudah pembukaan tahun ajaran baru di FKUI, Tranggono memperkenalkan Retno kepada orang tuanya yang langsung merangkulnya sebagai anak sendiri. Retno pernah bermimpi tentang ular piton, dalam mimpi itu dia dan Tranggono berjalan-jalan berdua, bergandengan tangan hingga tiba di dua persimpangan. "Dalam mimpi itu saya pilih jalan yang naik, meskipun napas waktu itu terasa ngos-ngosan entah kenapa rasanya kok senang dan terasa indah karena disekitar penuh dengan bunga-bunga", kata Retno. Dari isyarat mimpi itulah, Retno berkeyakinan kuat bahwa Tranggono bukan sekedar kekasih yang baik dimasa percintaan, tetapi jodoh yang akan membahagiakan hidupnya. Selayaknya adat Jawa, setelah satu tahun masa pacaran, dilaksanakan dulu proses lamaran, dimana kedua keluarga sepakat untuk melaksanakan acara resmi pertunangan pada Juli 1961, yang dihadiri oleh kedatangan keluarga dan teman-teman kedokteran yang berasal dari Semarang. Tanggal 22 Maret 1963 dipilih mereka menjadi hari pernikahan. Acara pernikahan lebih sederhana, dengan upacara adat yang tak selengkap perkawinan anak-anaknya dikemudian hari. Beberapa hari seusai acara pernikahan, pasangan pengantin baru itu langsung meluncur ke Jakarta. Mereka memilih berbulan madu di ibu kota, di Hotel Transaera dekat Gambir sebelum menempati rumah yang disediakan oleh AURI di jalan Sabang, agar Retno dapat belajar mempersiapkan ujian masuk ilmu penyakit kulit.
Biarpun Tranggono sudah bergelar dokter, soal sandang pangan dan papan tetap menjadi persoalan, gaji tahun-tahun pertama hanya pas-pasan untuk biaya hidup sehari-hari. Soal rumah, keluarga muda ini beruntung memperoleh rumah dinas dari Angkatan Udara, rumahnya masih dalam keadaan kosong, tanpa furniture ataupun perabotan lainnya. Dimasa awal rumah tangganya yang penuh percobaan itulah kekuatan cinta kasih Retno dan Tranggono justru digembleng. Keindahan yang sempurna baru terasa setelah lahirnya Sasya, putri Retno dan Tranggono yang pertama.
* * *

Bagaimana kisah perjalanan Retno menjalani profesi sebagai Ahli Kulit dan Kosmetik? Selanjutnya dapat anda beli buku Biografi "The Entrepreneur Behind The Science of Beauty Inspirator Kosmetik Indonesia" Retno Tranggono, di toko-toko buku terkemuka di seluruh Indonesia seperti; toko buku Gramedia dan Kinokuniya.   

< Cuplikan : Bab 1 + Bab 2 + Bab 3 + Bab 4 + Bab 5 + Bab 6 + Bab 7 + Bab 8 >

   

 
 
© 2008 Retno Iswari Tranggono | Situs Ristra | Koleksi Pustaka