 |
 |
Bab I
Masa Muda Retno.
Perempuan kelahiran Jakarta, tepatnya pada tanggal 17 November 1939 silam terlahir dengan nama lengkap Ratna Içwari yang lahir dari keluarga seorang guru bernama R. Soerono Tjitro Santjoko yang beristri Rr. Moekibah binti Mukidjo. Namun, pada saat Retno berumur 12-13 tahun dan menilai bahwa nama Içwari mengandung huruf "ç" yang kelihatan aneh, dan tidak bernuansa Jawa dan juga ia kurang "sreg" terhadap nama "Ratna", kurang njawani. Alias kurang menjawa. Maka, dihilangkannya "ç" yang aneh itu dan diganti dengan "s" biasa. Ratna pun disulap menjadi Retno, yang terdengar lebih lugas. Terciptalah nama Retno Iswari.
Retno adalah seorang anak keturunan kelas sosial yang akarnya tertanam paling dalam di Jawa, yaitu kaum priyayi, alias keturunan bangsawan. Kaum priyayi seperti keluarga Retno adalah penyandang utama kultur Jawa klasik. Warisan budaya Jawa ini terlihat pada tata krama yang menjunjung tinggi harmoni dan kontrol atas diri sebagaimana tercermin dalam penggunaan bahasa halus, kromo inggil . Pengaruhnya terlihat juga, secara lebih mendalam pada pola tradisi yang disebut kejawen. Di dalam aliran itu, filsafat kosmis tradisi Hindu-Budha serta epos dan cerita klasik yang menyertainya, berintegrasi secara padu di dalam kerangka monoteisme islam. Kultur kejawen bawaan kaum priyayi itulah yang mewarnai masa kecil Retno.
Retno merasa lebih dekat dengan ayahandanya dibandingkan dengan ibundanya. Menurut dia, sang ibu condong "otoriter" dan cenderung memihak putri bungsunya. Ayahnya berwatak pendidik, dia tenang, mengayomi dan tak pernah kehilangan kesabaran. Sang ayahanda juga cenderung menyukai pola hidup yang sederhana. Meski masih mengingat kekerasaan sikap ibundanya, Retno kini tidak pernah menyesalinya. Ibundanya yang menggembleng kepribadian Retno menjadikan perempuan yang disiplin dan teguh dalam memegang prinsip. Retno tak pernah menafikan andil ibundanya mengajari bagaimana berdikari secara ekonomi. Bagi dia, tidak ada pekerjaan yang tak layak diambil. Saya bahkan pernah disuruh jualan kain. Kain batik tulis pada waktu itu sesuatu yang cukup langka dan mahal, dan kami memang mempunyai jaringan ke produsen. Saya disuruh Ibu membawa batik langganan jauhnya. Juga disuruh ke tetangga, terutama untuk menagih uang pembayaran. Itulah yang mungkin membuat saya mandiri sampai sekarang ini, "cerita Retno menyimpulkan".
Ibunda lebih memilih bagaimana mengatasi kerumitan hidup dengan bersikap mandiri. Sebuah sikap yang menitis pula kepada putri-putrinya. Itulah yang kelak menempa Retno menjadi pengusaha wanita "modern" yang mengandalkan keterampilan, kecerdasan, dan ketekunan kerja, bukan koneksi dan aneka "katebelece".
Problem masa pancaroba Retno tidak hanya menyangkut namanya. Di Jawa, nama wajar dibicarakan, jika memang tidak cocok gampang diubah dan diganti. Berbeda dengan wajah. Kemanapun pergi wajah akan selalu terbawa. Soal wajah, jadi urusan besar buat Retno. Dimanapun wajahnya selalu coba disembunyikan. Mengapa??
* * *
Apa dan mengapa Retno selalu mencoba menyembunyikan wajahnya itu dan bagaimana kisah masa remaja Retno di bangku kuliah? Selanjutnya dapat anda beli buku Biografi "The Entrepreneur Behind The Science of Beauty Inspirator Kosmetik Indonesia" Retno Tranggono, di toko-toko buku terkemuka di seluruh Indonesia seperti; toko buku Gramedia dan Kinokuniya.
|
|
|
|
|
 |